Kilas Balik Tahun 2023
Dengan rasa syukur, hati yang berbahagia melihat dan merasakan karunia atas perjalanan hidupku di tahun ini. Hidup memberikanku kesempatan untuk merasakan ruang penerimaan apapun yang telah dirancangkan Tuhan didalamnya.
Dalam diriku, aku selalu melihat sebuah perbaikan dari tahun sebelumnya yang memancarkan cahaya disetiap kegelapan atas semua yang berhasil dan tidak berhasil kulalui. 3 tahun terakhir ini bisa dikatakan sebuah fase yang mengubah banyak cara pandangku terhadap banyak hal. Jika 2021 lalu aku tidak menerima banyak luka, menjalani kesendirian dengan rasa kekosongan, tidak dihargai, dan merasakan gagal barangkali aku akan tetap menjadi aku ditahun tahun sebelumnya. Tetapi, semua yang terjadi membawaku kedalam dua pilihan antara larut dalam keterpurukan atau bangkit dari keterpurukan itu.
Ya, begitulah kita hidup.. setiap yang terjadi didalam cerita kita, akan membawa kita ke dalam perubahan
Tidak mudah, namun pilihanku adalah bangkit dari semua rasa terpuruk yang membuatku depresi. Aku mempelajari bagaimana mengurai pikiran yang toxic, mengelola mode suasana hati, mediasi, mencaritahu makna penerimaan dalam hidup, menyayangi diriku dan memberikannya ruang untuk memiliki batasan (set boundaries). Aku menelusurinya melalui internet, youtube, podcast, ataupun konten diberbagai media dan jika aku punya cukup uang barangkali aku juga akan mengunjungi psikiater atau psikolog. Membaca buku, melakukan journaling, membuat akun anchor untuk podcast yang melatih berbicara pada diri sendiri dalam mengungkapkan perasaan, menulis di platform medium, membeli buku untuk menulis. Aku berani memulai itu semua walaupun berantakan, kadang tidak konsisten, kadang lupa, kadang tidak mood, dan semua masih terkadang tidak serius tapi, aku memulai itu semua.
Aku membutuhkan waktu setahunan, untuk menyadari impact dari itu semua. Ternyata dengan menulis, berbicara sendiri dan merekamnya, menghargai diri mengutamakan apa yang diri ini rasakan, jika suatu hal tampaknya tidak sejalan jangan memaksakan, jika terdengar tak sesuai beranilah untuk menyanggah paling tidak bertanyalah, mempelajari bagaimana cara menyampaikan sesuatu agar tidak selalu berteman dengan amarah walaupun ini masih sulit karna terkadang regulasi emosi yang belum tepat. Selain itu, rasa untuk percaya diri atas kelebihan dan kekurangan dalam diri harus dilatih, meyakini bahwa ada value yang dipunya tanpa harus membandingkan diri..
Tahun ini, diberikanNya aku banyak kesempatan untuk menangis dan tertawa. Aku juga benar benar merasakan keberanian untuk menyanyangi diriku karena, aku tak lagi berfokus pada ketakutan untuk tidak bersama sama dengan siapapun. Apa yang bisa kulakukan sendiri ya, kulakukan. Aku tetap bergaul dengan banyak orang namun, tidak lagi menempatkan wadah istimewa yang sebagaimana biasanya kulakukan. Aku lebih biasa dan menyadarkan diri untuk “people come and go”, tidak ada yang bisa kugenggam untuk selalu menjadi teman, untuk tetap menjadi musuh, karna semua itu bisa saja terjadi dan berbalik pada kenyataannya. Aku ingat bagaimana tahun ini aku berani melangkahkan kaki untuk menyelesaikan studi, dengan pergumulan tiada berhenti di Tugas Akhirku, teman teman, atas semua keputusan yang diambil, ego, memaksakan kehendak diri, takut tidak bisa lulus, pikiran pikiran yang mengancam, dan semua rasa sakit didalamnya. Dinding kamar asramaku adalah saksi bisu yang mendengar bagaimana aku menangis membujuk Tuhan, meminta kekuatan atas semua ketidaksanggupan… Aku juga ingat, bagaimana teman teman baik yang memberikanku pelajaran, memutuskan untuk tidak bersama sama lagi, aku tahu kita sama sama baik kok sampai akhirnya ketemu di titik sama sama sakit ketika ada saling mengecewakan, ya namanya manusia.. apa yang kita pikir baik, tidak salah, yang sudah dipertimbangkan dengan baik, justru ketika terjadi bisa mengubah seluruh perasaaan manusia yang baik ke diri menjadi berputar hingga membenci dan menghina diri. Aku memvalidasi rasa rasa yang tidak enak itu ke dalam diriku, menanyakan apa yang diriku bisa lakukan.. hingga akhirnya aku banyak kehilangan teman. Aku juga ingat, bagaimana adik cantikku bertindak seakan akan tidak pernah mengenali ku sebagai kakaknya, yang bahkan sudah dia pernah membagikan ceritanya, kaget saat menerima sebuah kalimat menyedihkan, setelah mencoba bebera waktu mencari tahu, adikku yang lain juga coba menanyakan, sampai saat ini aku tidak menemukan ruang pembenaran atas apa yang dia sampaikan dan aku menormalkan cutt off atas protection diriku. Bukan tidak menjadi baik, tetapi menjadi baik dengan memutuskan semua yang berkaitan dengan orang tersebut karna, apa yang telah dilakukannya memberikan aku kesadaran aku tidak dibutuhkan, aku bukan siapa siapa baginya. Aku juga ingat bagaimana aku mengutarakan pendapat atas kesepakatan tugas akhir saat itu, tapi dengan aku mengutarakan hal tersebut rupanya aku menjadi dianggap pelawan, padahal pendapat itu diutarakan dengan memiliki dasar yaitu kesepakatan yang telah disepakati pada pertemuan tugas akhir sebelumnya di bimbinganku. Jikapun, memang saat itu tidak bisa lagi diubah aku butuh diberikan penjelasan, keyakinan sebagaimana tim pendidik yang harusnya juga mendidik dengan cara tingkah laku dan pemberdayaan pada manusia yang disebut mahasiswa. Aku ingin merayakan ulangtahunku bersama orangtuaku yang pada tahun ini ditanggal ulangtahunku, tepat hari dimana yang harusnya libur tapi nyatanya, setelah dikatakan arrogant, pelawan aku tidak mau menjadi salut lagi dengan beliau, aku mengikuti keputusan akhir tidak bisa ib, sungguh saat itu dibulan april aku hanya bisa menangis di kamar asramaku, memeluk dan menguatkan diriku, tetap mengikuti ibadah pembasuan kaki di kamis putih, jumat agung, sabtu suci hingga ibadah penutup di hari minggu. Aku tidak bisa menahan untuk tidak menangis saat ibadah basuh kaki, aku hanya mengadukan semua itu dengan jelas pada Tuhanku, Tuhan yang menjadi penolongku. Aku tidak akan lupa hal itu, aku lega berani berpendapat dan bagiku tidak ada yang salah dengan pendapat yang kuberikan meski aku disalahi adik angkatan ku, di bully lewat chat, dan sikap sikap lancang mereka, membalas sikap mereka ingin sekali kulakukan tapi itu bukan type ku, aku memilih tetap diam dan memfokuskan satu hal untuk segera keluar lulus dari kampus ini. Demi apapun Tuhan perhitungkan setiap air mataku.
Dengan perjalanan panjang itu, Tuhan mengaturkan semuanya.. di berikannya jalan terbaik untuk menyelesaikan tugas akhir, aku hanyalah abu yang tak bisa melakukan apa apa tanpa Tuhan. Keiklasan hatilah yang menemani perjalanan ku untuk sebaik baiknya takdir, yang terbaik ya itu. Juni 2023 setelah sidang kelulusan tugas akhir, mengabadikan sedikit foto setelah sidang, setelah itu masih panjang perjalanan perjuangan yang dilakukan… masih banyak cerita menyedihkan hanya satu hal ini yang selalu menguatkan aku “sudah sidang, selesaikan semua!”. Waktu mengantarkan aku tiba di waktu end off all, selesai dan tinggal menunggu wisuda.